Resident Assistant

Image

Di postingan kali ini gue mau cerita soal kegiatan yang gue jalanin satu semester belakangan. Jadi ceritanya, mulai September 2012 lalu gue punya kerjaan baru, yaitu Resident Assistant. Gue bertugas men-support penghuni asrama, terutama di lantai tempat gue ditgaskan, sekaligus piket dapur setiap malam. Nggak cuma itu, gue dan 63 Resident Assistants (RA) lain juga bertanggung jawab mengadakan acara-acara yang bikin penghuni asrama, alias residents, makin betah di AP House, asrama kampus gue.

Kata orang sih, RA itu organisasi terbesar sekaligus paling bergengsi di kampus gue. Tapi jujur aja bukan itu alasan gue bergabung di sini. RA lantai gue lah yang bikin gue jatuh hati pertama kalinya. Bukan, bukan karena dia ganteng, Dia cewek kok. Yang bikin gue jatuh hati, walaupun waktu itu jelas banget mukanya capek dan kurang tidur, dengan senyum lebar dia menyambut gue dan residents lain yang baru datang. Sejak saat itu gue bertekad, suatu saat gue juga bakal pakai polo shirt orange alias seragam RA, dan membantu residents gue nanti seperti RA gue banyak membantu gue.

Enaknya jadi RA, apalagi sebagai orang yang cerewet kayak gue, kita bisa ngobrol dan dapat banyak cerita dari residents. Walaupun gue suka mager di kamar, begitu ke dapur gue bisa ketemu banyak orang dan ngobrol-ngobrol sama mereka. Lebih dari itu, dengan jadi RA gue semakin mengerti rasanya bahagia dengan membahagiakan orang lain. Setelah berkali-kali meeting untuk persiapan suatu acara, begitu residents datang dan senyum sumringah, rasanya kecapekan itu hilang begitu aja.

RA juga yang membuat gue belajar bekerja dengan orang asing, terutama orang Jepang. Walaupun gw sempat ikut beberapa organisasi lain sebelum RA, di sini gue dituntut untuk lebih disiplin dan menghargai pendapat orang lain. Bekerja dengan 63 orang dari berbagai negara itu sama sekali nggak mudah, lho. Tapi, setelah kenal mereka lebih dari satu semester, kami semua jadi berteman baik.

Ngomong-ngomong soal kerja dengan orang Jepang, seperti yang sudah jadi rahasia umum, mereka sangat menghargai waktu. Misalnya acara dimulai jam 7, kita semua harus sudah berkumpul paling lambat jam 7 kurang 5. Selain itu, orang Jepang juga sangat mematuhi peraturan. Sayangnya, kepatuhan ini kadang membuat mereka jadi terlalu kaku dan kurang kreatif. RA internasional (ehem, termasuk gw) lah yang biasanya ngasih ide-ide segar. Satu hal yang sebenarnya paling bikin bete adalah, orang Jepang sukaaaaaa banget mengadakan rapat. Satu acara kecil aja meeting-nya bisa lebih dari tiga kali dan tiga-tiganya super lama. Awalnya gue selalu malas ikut rapat, lama-lama sih jadi kebiasaan juga.

Bisa dibilang, kerja RA itu 24 jam sehari. Kadang ada yang ngetok pintu kamar karena lampu di kamarnya mendadak mati, padahal udah jam 11 malam. Bahkan saat ada resident yang sakit di tengah malam RA juga harus siap nganter ke rumah sakit.

Itu dia cerita singkat (eh panjang ya?) tentang RA. Kalo dihitung-hitung, gaji 20 ribu yen yang kami dapat sangat nggak sebanding dengan 24 jam kerja tadi (standar gaji part-time minimal 650 ribu). Tapi pelajaran dan pengalaman yang kami dapat selama jadi RA kayaknya juga nggak pantas juga dinilai dengan uang. Eciee. 

Pulang :)

Alhamdulillah, bulan Februari lalu gue berkesempatan pulang ke Indonesia untuk pertama kalinya setelah 3 semester. Serunya, kali ini gue nggak cuma bawa diri sendiri (dan adik pertama gue yang sekarang jadi teman kuliah), tapi juga 2 mantan roommate Jepang gue.

Setelah ditinggal hampir 2 tahun, tentunya banyak hal yang berubah dong di Indonesia. Perubahan yang paling mencolok buat gue:

1. Mal di Jakarta makin banyak! Namanya pun makin aneh-aneh, Salah satu yang sempat gue kunjungi namanya Kota Kasablanka.

2. Di Pamulang (my hometown yeay!) makin banyak rumah sakit. Semoga bukan hanya kuantitasnya yang meningkat, kualitasnya juga.

3. Adik kedua gue makin tinggi! Sebelum gue merantau ke Jepang tingginya 160 cm-an, sekarang lebih dari 170 cm. Jadilah gue anak tertua sekaligus terpendek. Hiks, resiko punya 2 adik laki-laki.

4. Mas-mas dan mbak-mbak penjaga gerbang tol makin berkurang. Pengguna e-toll card makin banyak.

5. Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta sudah jadi! Sebagai pengguna setia AirAsia (oops, sebut merek) gue beberapa kali ke sana dan sejauh ini tingkat  kenyamanannya cukup tinggi.

6. Kamar gue sudah disulap jadi ruang komputer. Lokasi barang-barang di rumah pun berubah total.

Ada juga beberapa hal yang nggak berubah sama sekali:

1. Zebra cross tetap jadi penghias jalan. Setelah 1,5 tahun “terpaksa” nyebrang di zebra cross, rasanya sedih dan khawatir melihat orang-orang masih nekat nyebrang sembarangan. Tapi seru juga sih melihat Kuriko dan Aoi, dua teman Jepang gue, “belajar” nyebrang sembarangan. Those creepy faces are just priceless haha.

2. Teman-teman SMA gue masih segila dulu! Yup, sebagai alumni SMA (okay, Madrasah Aliyah) berasrama, gue sangat akrab dengan mereka. Mereka juga salah satu alasan gue menyerah dengan prinsip “4 tahun nggak usah pulang” hehehe. Selama di Indonesia, selain jalan-jalan bersama 2 teman Jepang, gue menyempatkan diri untuk main ke kosan dan kontrakan mereka. Penampilan boleh berubah, tapi sifat dan kebiasaan kita ternyata masih sama tuh.