Father’s Day

Kemarin (well, 49 menit yang lalu sih masih “hari ini”) katanya diperingati sebagai Hari Ayah Internasional. Jujur gue nggak ngasih ucapan khusus apalagi kado buat bokap di Indonesia, dengan asumsi beliau juga nggak inget kok. Hehehe. Sebagai gantinya mau ngepost sedikit tentang hubungan gue dan beliau. Walaupun beliau juga nggak mungkin baca blog ini sih.

Bokap gue, yang gue panggil papa, adalah orang yang sedikit gila kerja. Setiap hari beliau berangkat kerja jam 6 pagi dan baru pulang jam 10 malam. Waktu kecil, gue dan adik-adik gue hampir nggak pernah bertemu beliau di hari kerja, padahal kami tinggal serumah.

Jujur, gue pernah merasa awkward sama beliau. Gue yang masih kecil nggak tau apa yang mesti diomongin sama bapak sendiri. Beliau pun bukan tipe orang yang memulai pembicaraan, walaupun suka ngejayus juga sih.

Menginjak SMP, atau mulai kelas 6 SD kali ya, gue mulai sering ngobrol dengan beliau meskipun cuma di hari Sabtu-Minggu. Topiknya sih selalu seputar masa depan. Gue mau masuk sekolah mana, persiapan yang dibutuhkan apa aja, dan lain sebagainya. Enaknya ngobrolin beginian dengan bokap, walaupun gue jauh lebih dekat ke nyokap, adalah beliau selalu mengukur segala sesuatu secara rasional. Jadi walaupun beliau bilang “nggak boleh” (jarang sih), gue bisa menerima dengan senang hati.

SMA, gue tinggal di asrama, tapi anehnya gue merasa makin sering ketemu dan ngobrol dengan beliau. Setiap dua minggu sekali, di saat gue nggak pulang ke rumah, beliau menjenguk gue ke asrama. Kadang gue iseng telepon ke kantor untuk konsultasi masalah sekolah. Saat liburan, pergi ke manapun gue selalu duduk di kursi depan mobil. Rasanya seru aja ngebahas masalah negara yang mau gue kunjungi sampe berapa umur ibu-ibu yang bawa mobil di depan.

Alhamdulillah, gue sangat bersyukur punya bapak yang sangat mendukung cita-cita anak-anaknya. Meskipun gue anak perempuan, beliau selalu memberi izin untuk melakukan apapun yang gue mau, selama itu baik. Gue boleh sekolah di asrama, boleh kuliah di luar negeri, boleh jalan-jalan ke luar kota sendiri. Walaupun kata nyokap beliau sering galau waktu pertama kali gue cabut dari rumah, hahaha.

Satu yang gue sadari, ternyata semakin dewasa sifat gue semakin mirip dengan beliau. Sama-sama pelupa dan nggak mau ribet. Sama-sama suka heboh sendiri kalo lagi punya rencana jalan-jalan atau membeli sesuatu.

Itu aja sih yang mau gue ceritain. Agak random memang.

Selamat Hari Ayah, Pa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s