Ramadhan di Negeri Orang

Wow, rasanya belum sempat ngapa-ngapain, Ramadhan kedua gue di Jepang sudah mau pergi lagi.

Ramadhan di Jepang? Gimana rasanya tuh?

Yang pasti beda banget dengan di Indonesia. Ya iyalah. Nggak ada acara lawak yang menemani sahur, restoran yang tutup di siang hari, kultum menjelang maghrib, apalagi iklan sirup M**ja*. Di sini, gue dan teman-teman muslim yang lain berpuasa kurang lebih 15 jam sehari, di antara orang-orang yang makan, minum, dan beraktifitas seperti biasa.

Berat? Bohong kalo bilang gampang-gampang aja. Kangen Indonesia? Pasti dong. Suasana Ramadhan memang susah didapat di sini. Tapi alhamdulillah, orang Jepang dan teman-teman internasional sangat toleran. Yang ada mereka malah menunjukkan muka khawatir seolah-olah gue mau pingsan setiap gue bilang gue nggak boleh makan, bahkan minum apapun sampai matahari terbenam. Asiknya lagi, bisa dakwah kecil-kecilan dengan menjelaskan arti Ramadhan ke mereka. Alhamdulillah juga ada masjid di downtown Beppu tempat salat tarawih dan buka puasa bersama.

Kalaupun ada yang bikin gue menyesal, ibadah lain seperti salat tarawih dan tadarus lumayan kacau kali ini. Tahun lalu, Ramadhan jatuh di awal liburan musim panas. Otomatis banyak waktu luang. Kali ini, awal Ramadhan bertepatan dengan awal musim ujian. Harusnya gue bisa meluangkan lebih banyak waktu di sela-sela sekolah dan persiapan ujian. Tapi semoga perjuangan menempuh ujian diberi nilai tersendiri dari Allah SWT, aamiin.

Advertisements

1 thought on “Ramadhan di Negeri Orang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s