Kuliah di Negeri Orang: Full Time vs Exchange

Ritsumeikan Asia Pacific University, Februari 2014
Ritsumeikan Asia Pacific University, Februari 2014

Alhamdulillah selama masa kuliah s1, saya berkesempatan untuk merasakan kuliah di dua tempat yang berbeda dengan status yang juga berbeda. Post ini sekedar sharing pengalaman yang saya alami selama kuliah di negeri orang baik sebagai full time student ataupun exchange student. Semoga bermanfaat!

1. Pendaftaran

Untuk proses pendaftaran, tentunya masing-masing universitas dan negara punya sistem yang berbeda-beda. Kadang ada orang yang bertanya ke saya, “gimana sih cara kuliah di luar negeri?”. Hm. Itu pertanyaan yang jawabannya bisa lebih panjang dari tugas kuliah. Pesan saya sih, rajin-rajin lah mencari informasi dari internet atau sumber lain seperti kedutaan. Bertanya ke teman yang berpengalaman tentu boleh-boleh saja, tapi usahakan saat bertanya sudah ada gambaran mau belajar apa di negara mana.

Saya sendiri mendaftar ke Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) lewat kantor perwakilan yang ada di Indonesia. Persyaratannya waktu itu (tahun 2011) adalah nilai TOEFL, rapor dan ijazah SMA, dan essai. Setelah mengumpulkan berkas ada proses wawancara via telepon dengan admissions office APU. Untuk lebih lengkapnya lihat di sini.

Sedangkan untuk pendaftaran exchange ke Korea University, saya mendaftar lewat academic office di APU. Universitas saya memang mengadakan seleksi exchange ini tiap semester. KU adalah salah satu pilihan tujuannya. Jadi bagi yang berminat mengikuti program seperti ini memang harus up to date soal program di universitas masing-masing.

2.Persiapan sebelum berangkat

Yang paling penting sebelum berangkat merantau ke suatu negara pastinya membuat visa alias izin masuk ke negara tersebut. Bagi yang dapat beasiswa untuk biaya hidup, biasanya pembuatan visa lebih mudah. Tapi bagi yang harus menanggung biaya hidup senditri (termasuk saya di bulan-bulan pertama) pembuatan visa ini bisa menghabiskan segentong air mata hahaha. Eh, tapi serius, “hanya” karena gagal menunjukkan saldo sekia di bank, keberangkatan kita bisa gagal, walaupun sudah diterima universitas. Karena itu, bagi yang ingin kuliah di luar negeri, pastikan orang tua menyanggupi untuk mengusahakan pembuatan visa ini. Banyak trik yang bisa digunakan, kok. Tapi saya nggak akan bahas di sini ya hehehe.

3. Biaya kuliah (dan beasiswa)

Seperti yang saya bilang sebelumnya, proses pendaftaran universitas di tiap negara itu berbeda-beda. Begitu juga dengan beasiswa yang ditawarkan. Beasiswa ini bisa datang dari universitas, perusahaan, foundation, ataupun pemerintah negara tersebut. Bagi yang mau ke Jepang misalnya, ada MEXT Scholarship (a.k.a. Monbusho) dan Mitsui-Bussan. Di Korea sendiri ada Korean Government Scholarship Program (KGSP). Saya ingatkan sekali lagi, rajin-rajinlah mencari informasi.

APU sebagai salah satu universitas swasta di Jepang punya program tuition reduction alias potongan harga untuk biaya kuliah, dari 0% sampai 100%. Beasiswa ini bentuknya bukan berupa uang tapi langsung berupa potongan tagihan. Pada dasarnya tidak ada syarat tambahan untuk beasiswa ini, tapi APU tidak pernah menjelaskan apa yang menjadi pertimbangannya. Jadi jangan tanya saya karena saya juga nggak tahu hehehe. Untuk biaya hidup, ada beberapa beasiswa yang bisa di-apply setelah sampai di Jepang, seperti Honors Scholarship dari JASSO atau beasiswa dari pemerintah Beppu city dan Oita prefecture. Alhamdulillah beberapa tahun terakhir Honors Scholarship sebesar 48,000 yen diberikan ke semua mahasiswa baru selama 1-2 semester.

Sementara di untuk exchange program di KU, ada dua beasiswa yang ditawarkan tahun ini yaitu Global Korea Scholarship dan Global KU Scholarship. Namanya memang sangat mirip sampai-sampai orang international office pun sering salah sebut. Yang pertama sumbernya dari pemerintah Korea dengan besar 800,000 won per bulan. Sementara yang kedua adalah beasiswa dari KU sendiri. Pendaftarannya di buka beberapa bulan sebelum program dimulai.

4. Kerja sambilan

Banyak negara, termasuk Jepang dan Korea, yang memberi izin untuk bekerja part time sambil kuliah. Nah, tapi perlu diingat, untuk bekerja diperlukan yang namanya work permit. Biasanya proses pembuatan work permit cukup makan waktu. Karena itu, untuk yang ikut program exchange, terutama yang hanya beberapa bulan, bisa jadi work permit baru keluar saat kalian hampir pulang dari negara tersebut.

Saya sendiri pernah bekerja sebagai tukang sapu kelas (walaupun gabut hahaha), penerjemah, dan guru bahasa Inggris selama di Jepang. Alhamdulillah pendapatan sekitar 650-850 yen per jam cukup untuk makan dan keperluan sehari-hari. Sedangkan karena alasan di atas, ditambah bahasa Korea yang masih sangat kurang, saya tidak membuat work permit di Korea.

5. Jalan-jalan

Nah, kalau buat saya, ini yang paling penting dalam kehidupan sebagai mahasiswa. Selama tinggal di Jepang, saya biasanya membatasi jajan dan tidak belanja pakaian (karena memang nggak suka juga sih) selama 4 bulan kuliah. Nah, saat libur kuliah sekitar 2 bulan itu lah saya “ngehedon” dengan jalan-jalan ke kota-kota lain. Hal ini didukung juga oleh tempat tinggal saya yang jauh dari pusat-pusat keramaian. Tapi selama di Korea, rasanya sangat susah untuk menahan diri nggak ke mana-mana karena saya tinggal di ibukota Seoul. Jadi deh hampir setiap weekend saya pergi ke luar Seoul. Tapi tentunya saya tetap ingat prinsip hidup sederhana dan hemat, dong. Kartu pelajar dan paspor adalah dua senjata yang ampuh untuk menghemat biaya perjalanan, karena beberapa tempat atau alat transportasi punya diskon khusus untuk pelajar dan/atau orang asing.

“Jadi intinya, enak nggak kuliah di luar negeri?”

Waduh, ini sih lebih susah dijawab dari pertanyaan pertama tadi. Yang pasti, dengan tinggal jauuuuh dari orang tua saya benar-benar bisa belajar mandiri. Kadang saya ingin skype ke rumah, tapi keluarga sedang tidak online. Kadang saya dalam keadaan darurat dan butuh sesuatu, tapi chat whatsapp saya baru dibaca beberapa jam setelah dikirim. Selain itu saya jadi lebih tahu kebiasaan orang-orang dari negara-negara lain, dari yang baik sampai yang buruk. Mengenal suatu budaya dari orangnya langsung pastinya jauh lebih seru daripada melihat di TV.

Tapi yang namanya kesulitan itu pasti juga ada, apalagi di awal. Saya sempat frustasi karena sering “salah makan”, alias salah beli makanan yang ternyata tidak halal. Siapa juga yang nyangka snack cokelat bisa mengandung babi? Tapi sekarang saya senang-senang aja, tuh. Bukan senang makan babi ya, naudzubillah, hahaha. Senang karena jadi ada bahan obrolan kalau ada orang yang tanya kenapa saya nggak makan daging non-halal, kenapa saya nggak minum, kenapa saya tidak boleh pamer rambut dan kulit, dsb. Komentar dai para penanya itu justru sering membuat saya makin bersyukur jadi orang beriman.

Oh, kembali ke soal full time versus exchange, masing-masing pastinya ada plus dan minusnya. Bagi yang kuliah 4 tahun di luar negeri, kesempatan untuk pulang ke Indonesia dan bertemu keluarga pastinya tidak banyak. Kadang jadi sedikit ketinggalan berita-berita dan kejadian penting di Indonesia. Tapi enaknya kita bisa benar-benar belajar kebudayaan dan bahasa setempat. Sedangkan pergi exchange 1 atau 2 semester memang menambah pengalaman juga, tapi mungkin tidak sebanyak yang full time. Enaknya, kita bisa membandingkan sistem pendidikan dan lingkungan di Indonesia dan negara tujuan.

Mau kuliah di Indonesia atau di luar negeri, full time atau exchange, semua bisa jadi baik atau buruk. Yang lebih penting itu niatnya, kan? Ok deh selamat mencoba! Keep dreaming and praying!

Advertisements

4 thoughts on “Kuliah di Negeri Orang: Full Time vs Exchange”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s