Back to School: Why Australia?

Haloooo kembali lagi dengan saya di sini *sok asik*

Jadi beberapa bulan belakangan ini gue sering ditanya tentang kuliah (khususnya master) di Australia. Nah, berhubung saat ini gue ngambil jurusan International Development di RMIT University, Melbourne, jawaban gue mungkin akan bias. Tapi silakan dibaca siapa tahu bermanfaat.

p_20170314_171740_zpsxnxjsyrk
Dapet salam dari koala.

Oke langsung aja ke QnA, ya:

  1. Kenapa Australia? Hmm, jujur aja gue awalnya nggak ada niat untuk ambil master di sini. Tapi karena kondisinya saat itu cukup mendesak, gue akhirnya mencari beberapa universitas yang buka intake bulan Februari, dan kebanyakan memang di Australia. RMIT sendiri adalah universitas pertama yang gue daftar dan alhamdulillah diterima. Jadi, lagi-lagi gue akui, keputusan untuk pergi ke Australia termasuk  yang “tidak direncanakan”.
  2. Kenapa RMIT? Kembali ke pertanyaan pertama, keputusan memilih RMIT bukan sesuatu yang gue pikirkan lama-lama. Tapi kalau ditanya pertimbangannya ya nggak jauh-jauh dari reputasi dan ketersediaan jurusan. Dari awal memutuskan berangkat S2 dengan beasiswa LPDP gue memang tidak pernah menargetkan untuk masuk universitas yang “wow”, karena buat gue kecocokan universitas dan kemampuan gue jauh lebih penting dari sekedar prestige. RMIT sendiri rankingnya termasuk “biasa aja”, tapi reputasinya di Australia cukup bagus sebagai universitas yang punya banyak International students dan hubungan yang  baik dengan industri.
  3. Apa sih enaknya kuliah di Australia? Pertama, hubungan dosen dan mahasiswa. Di sini dosen dipanggil dengan first name tanpa embel-embel professor atau panggilan lainnya. Kalau ada pertanyaan seputar perkuliahan, dosen sangat reachable walaupun kadang hanya bisa lewat e-mail karena ybs sibuk. Di kelas pun diskusi sangat terbuka, bahkan kadang dosen terkesan “gabut” karna mereka hanya menjelaskan sebentar sebelum mahasiswa dilepas untuk diskusi. Gue pernah membahas ini dengan teman yang asli Australia, dan ternyata mereka memang dibiasakan untuk “nggak gampang percaya” dengan omongan guru sejak SD. Sangat berbeda, kan, dengan kita yang terbiasa mendengarkan penjelasan guru di kelas.
  4. Bagaimana kehidupan muslim di Australia? Alhamdulillah gue tinggal di kota Melbourne yang sangat multicultural. Kerudung yang gue pakai sehari-hari tidak membuat gue merasa “aneh” karena banyak juga perempuan lain yang berhijab. Makanan halal? Jangan ditanya. Selain kebab dan masakan Indonesia, gue paling suka makan di restoran Uyghur alias Muslim Chinese. Bumbu-bumbu masakan Indonesia ada di berbagai toko Asia, halal butcher pun ada di mana-mana. *tuh kan, seru sendiri kalau bahas makanan* Puasa dan Lebaran kemarin pun gue nggak pulang ke Indonesia dan alhamdulillah suasana buka puasa, tarawih, dan solat ied cukup ramai karena di sini ada beberapa masjid dengan komunitas yang besar dan akrab.
  5.  Katanya living cost di sana mahal, ya? Kalau ini nggak bisa dipungkiri, sih. Tapi tenang, selalu ada cara menyiasatinya. Gue sendiri memilih untuk tinggal di city alias Melbourne CBD yang lokasinya dekat dengan kampus, jadi nggak berat di ongkos (walaupun harga sewanya sedikit lebih mahal). Fyi, naik tram di CBD gratis sepuasnya, lho. Terus untuk makan, belanja bahan mentah di sini cukup jauh bedanya dibanding makan di luar. Jadi selagi ada waktu untuk masak, gue lebih memilih masak sendiri.
  6. Dari tadi bahas yang enak-enak terus. Yang nggak enak apa? Gue orangnya memang jarang mengeluh *eaaaak* tapi kalau harus jawab… Gue akan jawab ini: internet di sini lola alias lemot alias lamaaaa.! Apalagi kalau malam. Agak bikin sedih sih bagi yang suka nontonin Oppa kayak gue hehehe.

Sementara itu dulu kali, ya? Jangan malu-malu untuk bertanya kalau ada yang masih ingin ditanyakan. Inshaa Allah akan gue jawab di kesempatan berikutnya.

Back to school: A mid-semester reflection

Processed with VSCO with c1 preset
Loh Ard Gorge, Victoria, Australia (taken March 2017)

H e l l o !

I know I’ve said this repeatedly on my previous posts but hey, I’m back again!

Some of you might have known that I, alhamdulillah, was chosen as an awardee for LPDP Scholarship from the Ministry of Finance. I initially planned to go to Germany, but things didn’t work out and long story short, here I am in Melbourne, Australia, pursuing my master’s degree on International Development.

People don’t lie when they say time flies. I am now already halfway through my first semester here. Most of my classes are held as intensives, meaning that I only need to go to school four times per class in a semester (each of the classes are as long as 6 to 7 hours). I will talk more on this system later on, insha Allah.

As for the classes, I am super grateful to be able to meet awesome lecturers and facilitators who’ve got interesting experiences from the development field, having worked either for NGOs or for Australian government before coming back to university to teach. I enjoy the classes mostly because I am given a lot of chance to share my personal experience growing up in a so-called “developing country” as well as listen to my classmates’ experiences (most of them are Australians or Australian permanent residents, making me one of a few students that are new to Australia).

Speaking  of experience, I think I’m starting to experience quarter life crisis. Only having classes once in a while gives me a lot of time to think about myself, so I’ve been thinking a lot about what to do in the future recently. Well, if you know me you’ll know that daydreaming has been my hobby since I was fifteen; but now that I’m 24, I feel like the daydreams are accompanied by more insecurities than ever. Sometimes I see myself as too childish (and selfish) because I haven’t really thought of having a steady job or buying a house or *cough* finding someone to marry.

Oh, and I still don’t know when my next update will take place (mostly due to my “busy” schedule of binge-watching youtube videos LOL) but I’d be happy to share this exciting journey towards obtaining master’s degree through my blog. If you have any questions on this please feel free to ask me!

Tentang Beasiswa LPDP: Seleksi Administrasi

Disclaimer: tulisan di bawah ini berdasarkan ingatan, catatan, dan pendapat pribadi penulis, jadi mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan.

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga saya menunaikan janji sharing tentang lika-liku mengejar beasiswa LPDP di blog ini. Semoga bermanfaat buat yang baca (kalau ada).

Jadi di sini saya nggak akan panjang lebar menjelaskan apa syarat-syarat mengikuti seleksi beasiswa LPDP, karena selain syaratnya berubah-ubah tiap periode, sudah ada juga info lengkapnya di sini. Yang jelas, pada saat saya mendaftar di bulan Oktober 2015, ada 3 item yang cukup membutuhkan usaha untuk dihadirkan: essay, rencana studi, dan surat keterangan sehat dari rumah sakit pemerintah. Bahas satu-satu yuk, cyin…

ESSAY

Ada dua essay (masing-masing panjangnya 500 kata) yang waktu itu harus saya buat, satu bertema prestasi terbesar dalam hidup dan satunya lagi tentang kontribusi bagi Indonesia. Khusus tema yang kedua, ada beberapa poin pertanyaan yang bisa dijadikan guideline untuk penulisan essay. Sekilas dua tema ini mungkin tampak sederhana, apalagi dibandingkan dengan topik skripsi yang kadang menjelaskan ke dosen saja pusing sendiri. *maaf curhat* Tapi yang perlu diingat, kita perlu memposisikan diri sebaik mungkin dalam penulisan kedua essay ini. Jangan sampai terkesan terlalu “rendah diri”, tapi juga jangan merasa jumawa atau arogan. Yang sedang-sedang saja, kalau kata lagu dangdut. Menurut saya sih, sebenarnya pihak penyeleksi tidak terlalu “peduli” dengan jenis dan bentuk prestasi maupun kontribusi kita. Toh, hampir semua yang mendaftar pasti berprestasi dan banyak berkontribusi bagi Indonesia semasa kuliah. Yang dilihat oleh penyeleksi adalah cara pandang kita tentang pengalaman-pengalaman di masa lalu, apa yang kita pelajari dari situ, dan semacamnya. (Jangan percaya 100% ya sama saya, hehehe *insert peace sign*)

RENCANA STUDI

Nah, kalau yang ini, tidak ada batas jumlah katanya. Mau buat panjang boleh, singkat tapi padat pun silakan saja. Awalnya saya bingung juga dengan format bebas ini, apalagi saat mendaftar ke universitas tujuan saya tidak diminta membuat research proposal. Jadilah saya ngubek-ngubek blog para awardee (baca: sebutan untuk penerima beasiswa LPDP) senior. *terima kasih kakak-kakak* Dari contoh-contoh yang saya dapat, ada beberapa yang hanya menuliskan garis besar penjelasan jurusan yang dituju, kemudian ditambah rencana setelah lulus. Ada juga yang mencantumkan pilihan kelas secara detil, bahkan sampai rencana keuangan perbulan pun ditulis. Hmm, makin bingung lah saya. Akhirnya saya ambil jalan tengah saja, dengan menuliskan latar belakang pilihan jurusan, kelas-kelas yang rencananya akan diambil, rencana topik tesis, dan rencana karier setelah lulus.

SURAT KETERANGAN SEHAT

Berbeda dengan dua benda di atas, yang ini tidak bisa saya siapkan sendiri. Saya harus melakukan medical check-up terlebih dahulu di rumah sakit pemerintah (sesuai syarat dari LPDP waktu itu). Berhubung saya berdomisili di perbatasan Pamulang-Serpong, jadilah saya memilih RSUD Kota Tangerang Selatan yang berada di Pamulang. Prosesnya kira-kira begini: saya datang dan mendaftar langsung di counter rumah sakit (tentunya dengan menjelaskan keterangan bebas penyakit apa saja yang saya butuhkan), lalu dicek lab dan rontgen. Sebenarnya ada yang harus saya kumpulkan ke RS keesokan paginya, tapi benda ini boleh diantar oleh siapa saja jadi kita tidak harus datang lagi. Saya sih titip ke Mama, hehehe. Setelah 4-5 hari kerja, saya datang lagi ke RS untuk mengambil hasil rontgen lalu membawanya ke ruangan dokter umum. Beliaulah yang menandatangani surat keterangan sehat, bebas narkoba, dan bebas TBC yang saya minta.

Itu tadi sekilas info tentang seleksi administrasi LPDP. Bagi yang mau tanya-tanya lebih lanjut, silakan komen di bawah ini. *kayaknya nggak ada juga sih, hiks*

Bagi yang mau daftar, saya ucapkan semangat dan semoga sukses!!!!

 

Japanese Stuff I’m Surely Gonna Miss: 100-yen Shops

Since I decided to leave Japan, I’ve been listing the items and happenings that are so Japanese that I saw during my 4 years here; the ones that will always remind me of this country. And the first thing on the list is… Daiso! (and other similar 100-yen shops).

Daiso at Mochigahama, Beppu

They do have Daiso in other countries including Indonesia and Korea, but still, they’re not as comprehensive (can I use this adjective to describe a shop??) as the ones in Japan. Plus, the price of stuff in Daiso overseas, especially in Indonesia and Korea, are not as cheap as the original ones. I believe most of the items at Daiso Korea cost 2000 won, which is around 200 yen. I’m not sure about Daiso Indonesia but it should have similar case. Plus, you can actually find similar products with lower price in Indonesia and Korea, while you can’t really do so in Japan. As the result, Daiso in those two countries are more of “all-you-can-buy stores” rather than “the only places you can get a lot of products without hurting your wallet”.

Speaking of all-you-can-buy, Daiso and its fellow 100-yen shops literally sell anything you need to survive. Just imagine buying a new house and having nothing inside, then you go to a 100-yen shop and life suddenly feels complete.

Life essentials

What makes 100-yen shops even more interesting is that they sell some stuff that you wouldn’t think you need at first, but then you decide to buy them just because you realize you might need them at some point in your life.

This is what you need when that time of the month comes
This brush can be used to spread detergent at the same time

Most of them also have cosmetic rows. I never had guts to try the cosmetics but then a lot of Japanese beauty vloggers, like Choicerish and Sasaki Asahi have used them in their videos, so…

Oh, I’ve been mentioning “other 100-yen shops” for a few times, but what are they actually? As far as I know, the biggest rival of Daiso in terms of the number of branches is Seria. I personally feel that the items at Seria are more pretty and artistic, though. There are also shops called Can Do, which I can’t really differentiate from Daiso. I also know a shops that sells their products 5 yen cheaper the three that I mentioned named Life Plus. (And yes, 5 yen DOES matter okay).

After all, Daiso may not be the cheapest place to buy essentials in Indonesia, but I would definitely go there if I ever need to get some random Japanese stuff that can’t be found anywhere else.

Hanami 2015

Hanami, which literally means “seeing flowers”, is one of the ways Japanese people appreciate nature. In Japan, hanami refers to seeing cherry blossoms (sakura) in full bloom. Many of Japanese families or couples go to parks with their lunch boxes, doing picnic under the sakura trees.

In the past three years, I only had chances to do hanami in Beppu. This year, though, I went to Oita city to capture the beauty of Sakura with my high school juniors (who are now my university juniors as well).

Our first destination was Oita Ruins Castle. This, I must say, is one of the most under-rated sites in Oita, at least for APU students (not only me, right?). Located within walking distance from Oita station, I realized I should have been there for previous hanamis.

We also saw some group of Japanese people having BBQ under the sakura trees.

Next, we headed to Oita River. I had been there before, but never by walking. So that was the first time I felt the fresh air around the river bank. Again, I wondered why I had never been there before.

Well, apart from the fact that I, Insha Allah, will leave Oita soon (which of course makes me sad), I’m so grateful for yet another chance to capture this natural beauty called sakura!

Bonus: some sakura trees I saw earlier at Beppu park

Sindrom Butiran Debu

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Saya pertama kali mendengar istilah “butiran debu” dari sebuah lagu yang berjudul sama. Belakangan, saya makin sering mendengarnya dari obrolan-obrolan tentang masa depan dengan teman-teman SMA. Biasanya, saat membicarakan teman yang baru saja mencetak sebuah prestasi atau mendapatkan (ehem) jodoh, salah satu dari mereka akan bilang, “yah, dia sih kece, kalo gue mah apa atuh, cuma butiran debu” atau semacamnya. Lama-lama saya jadi ikut-ikutan menggunakan istilah ini. Sampai suatu hari keluarlah ide di kepala untuk menyebut rasa minder dan kurang percaya diri untuk mewujudkan cita-cita sebagai “sindrom butiran debu”.

Sindrom butiran debu ini nampaknya cukup berbahaya. Buktinya, teman-teman SMA saya yang jelas-jelas kece, pintar, dan insya Allah soleh-solehah *heh, jangan gr ya lo pada* mendadak jadi galau dan resah memikirkan nasib mereka di masa depan. Ada yang mau apply S2 tapi merasa IP atau kemampuan Bahasa Inggrisnya kurang, ada yang ingin lulus cepat tapi belum pd mencari pekerjaan di jaman yang (katanya) serba sulit ini, ada juga yang naksir orang tapi merasa orang yang ditaksir bakal segera melamar orang lain (#eh).

Kemarin, saat mendengarkan presentasi oleh Bapak Abdul Kahar (Direktur Dana Kegiatan Pendidikan LPDP) dalam LPDP Edu Fair (yang mau tau LPDP itu apa, ke sini ya), saya kembali teringat akan sindrom yang juga saya alami ini. Beliau kira-kira ngomong begini, “anak-anak mahasiswa jaman sekarang, semester-semester akhir menjelang wisuda bukannya bersuka cita malah jadi galau”. Waduh, si Bapak kok bisa menebak isi hati saya, ya? Tapi berhubung acara kemarin dihadiri ribuan orang, yang hampir semuanya manggut-manggut mendengar ucapan si Bapak, berati sindrom butiran debu ini sebenarnya memang lagi mewabah, dong?

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya mengalami sindrom ini. Bedanya, waktu SMA, saat sindrom semacam ini menyerang, saya tinggal masuk ke kamar teman, curhat colongan, lalu balas mendengarkan kegalauan teman saya dan saling memberi masukan dan suntikan semangat. Cara lainnya, tinggal ke ruang BK lalu minta bantuan Bu Rini, guru BK paling kece se-dunia, untuk mencarikan solusi yang tepat untuk masalah saya. Bisa jadi sindrom yang menyerang saat ini makin parah karena saya kehilangan sosok teman-teman se-asrama dan sosok Bu Rini. Bisa juga karena sekarang pilihan yang ada semakin banyak, sementara di sisi lain saya juga makin menyadari batasan-batasan yang ada pada diri saya.

Jujur, saya sendiri masih belum tahu apa obat yang bisa menyembuhkan sindrom ini. Tapi sepertinya sindrom ini memang tidak baik untuk dipelihara. Untuk sementara, saya akan mencoba nekat untuk mencoba berbagai pilihan, tentunya setelah meminta petunjuk kepada Allah swt. Kewajiban manusia “cuma” berusaha dan berdoa, kan? Mangat yuk, Cyiin!

Eid in Beppu (again)

IMG_4533

Alhamdulillah! So happy that I could still enjoy Ramadan this year. May Allah let us experience it again next year 🙂

Here are some pics of the fireworks festival my friends and I went to a night before eid. We were so excited to go even though we’re in the middle of the exam week.

IMG_4478 IMG_4479 IMG_4502 IMG_4506 IMG_4518 IMG_4522

That was the first time I went out wearing yukata (Japanese traditional clothes). I got this lovely yukata set from my host family in Kyoto last year.

A little bit too dark :D
A little bit too dark 😀

I treated myself a cup of shaved ice. It’s called kakigori in Japanese. There were grape, strawberry, orange, etc. but I chose mango flavor.

The least crowded booth
The least crowded booth

Alhamdulillah the weather was super nice last night. It wasn’t even hot because of the wind.

And… there comes the eid celebration in our Beppu Mosque!

Opor Ayam!
Opor Ayam!

Since this is the first time for me celebrating Eid al-Fitr on a school day, I was so excited to meet a lot of students in the mosque. Last year, only less than half of us stayed in Beppu.

Well, last but not least,

Eid Mubarak!!!!

Taqabbalallahu minna wa minkum