This month, 9 years ago

3207_1152788617506_3047492_n

April 2009 was the first time I stepped on a foreign land: Singapore. Not for a leisure trip, but for a study tour and university visit. I can still remember how I begged my dad to send me on this trip via payphone (yup, that was the most convenient way to call home from my boarding school). Look, I very rarely ask for things–let alone pricey ones–to my parents, knowing that our financial situation wasn’t at its best at that time. However, I knew deep inside that this trip would be the door to achieving my dream of studying abroad.

Turned out, apart from financial reasons, my dad was actually very supportive about sending me to Singapore. After sorting out the payment, he accompanied me to the immigration office to make my very first passport. I was sixteen at that time, and even leaving the dorm for a while to go to the immigration office felt like a dream.

Long story short, my school friends and I spent about a week in the city-country.  We visited top schools such as NTU, NUS and SMU. At that point of time, I wanted to be an architect, and studying in Singapore seemed like a good choice for my future. Little did I know, I wouldn’t even pass the document screening two years later. But let’s save that for another post.

Before embarking on the trip, I promised myself not to waste the money my dad entrusted me. Alhamdulillah, not only did the trip open my eyes about education abroad, it also gave me more chances to visit other school trips in the following months. On that same year, I was sent to China with some of my classmates whom I went to Singapore with. The next year, I was able to visit Japan for another school program.

Now I’m not posting this to show off, or to say that everyone has to travel the world. The message that I’d like to convey is that nothing is impossible as long as you believe in yourself and your Creator. Before 2009, I had no idea I would be able to study abroad like this, but that trip to Singapore really opened my eyes that there are things that I could actually accomplish if I kept trying.

Sorry for the rather unstructured post–you don’t have to read it all, really. But I hope, if you do read it, you’ll start to trust your dreams more. Also, don’t forget that you’re not alone. There are always people who will support you, be it your family, friends, or colleagues. Don’t forget to thank them too once you’ve achieved what you wanted, in shaa Allah.

Advertisements

Cara Dapet Beasiswa?

“Kak, caranya dapet beasiswa gimana sih?”

Pertanyaan ini sering banget gue dapet dari dedek-dedek gemes yang lagi duduk di bangku SMA maupun S1. Berhubung pertanyaannya nggak spesifik, biasanya gue tanya dulu si dedek tersebut lagi ngincer beasiswa apa. Tapi in general, berikut ini jawaban yang biasanya gue kasih ke mereka:

  1. Banyak cari informasiManfaatkanlah teknologi informasi yang makin menjadi-jadi ini dengan banyak cari informasi seputar sekolah/kampus/program tujuan. Kalau internet di rumah lemot, atau kuota HP kurang memadai, bisa pinjam komputer sekolah atau pergi ke warnet. Bisa dibilang, proses pencarian informasi ini adalah langkah awal kesuksesan. Semakin detail informasi yang kita punya tentang sekolah/kampus/program tujuan, insya Allah semakin siap juga untuk daftar. Ya, ibarat mau perang, mesti ngerti dulu dong medan perang dan musuh yang bakal dihadapi seperti apa.

    Oh, tambahan tips, tanya ke orang-orang yang udah berhasil sih boleh-boleh aja, boleh banget malah, tapi usahakan pertanyaannya jangan tentang persyaratan atau hal-hal umum lain yang bisa dicari tahu sendiri. Selain bisa mengganggu orang yang ditanya, persyaratan dan tanggal pendaftaran itu umumnya diganti setiap tahun/periode. Jadi, daripada sama-sama nggak enak, lebih baik tanya pertanyaan yang lebih detail (tapi jangan kelewat kepo ya hehehe).

  2. Siap-siap gagal
    Loh, belum daftar kok udah disuruh siap-siap gagal? Menurut gue pribadi sih menyiapkan mental untuk bisa menerima hasil apapun itu sangat penting. “Siap-siap” di sini bukan berarti pesimis loh. Tapi lebih ke nyiapin mindset “oke, kalo kali ini belum berhasil, gue akan coba yang lain” atau semacamnya. Kalau kalian terlalu fokus ke bagian enak-enaknya, saat kegagalan itu datang pasti akan lebih sulit buat move on.
  3. Teliti saat menyiapkan berkasUntuk yang satu ini, gue belajar banyak dari orang Jepang. Selama di sana, gue menemukan beberapa program beasiswa yang daftarnya harus tulis tangan dan nggak boleh ada salah tulis sedikitpun! Bayangin deh tuh ribetnya gonta-ganti kertas akibat salah nulis satu karakter. Nah, menurut gue, ketelitian kayak gini justru sering dilupain saat menggunakan komputer. Ada baiknya sebelum submit dokumen kalian periksa baik-baik apakah ada bagian form yang belum diisi, typo, scan-an kurang jelas, dll. Kalau perlu minta tolong teman/keluarga untuk ngecekin juga.
  4. Be authenticBaik saat menulis essay maupun saat wawancara, jadilah diri kalian sendiri. Nggak perlu minder karna merasa IP kalian nggak sebagus orang lain atau prestasi kalian cuma sebatas menang lomba balap karung. Yang dicari sama pemberi beasiswa bukan kesuksesan atau kegagalan kalian, tapi gimana cara kalian belajar dari pengalaman. Percayalah bahwa tiap orang itu unik dan punya daya tarik masing-masing.
  5. Banyak berdoaIni sih udah pasti, ya. Sebesar apapun usaha yang dilakukan, cuma Allah swt. yang berkuasa nentuin jalan hidup kita. Jadi di sela-sela nulis essay dan nyiapin berkas, jangan sampe deh ibadah yang biasa kita kerjain berkurang. Justru harus makin ditingkatkan lagi dong ya semangat “merayu” Allah nya.

    Oke deh segitu dulu tips mendapatkan beasiswa dari gue yang sotoy ini. Semoga bermanfaat. Semangat terus yaa!

 

Back to School: Why Australia?

Haloooo kembali lagi dengan saya di sini *sok asik*

Jadi beberapa bulan belakangan ini gue sering ditanya tentang kuliah (khususnya master) di Australia. Nah, berhubung saat ini gue ngambil jurusan International Development di RMIT University, Melbourne, jawaban gue mungkin akan bias. Tapi silakan dibaca siapa tahu bermanfaat.

p_20170314_171740_zpsxnxjsyrk
Dapet salam dari koala.

Oke langsung aja ke QnA, ya:

  1. Kenapa Australia? Hmm, jujur aja gue awalnya nggak ada niat untuk ambil master di sini. Tapi karena kondisinya saat itu cukup mendesak, gue akhirnya mencari beberapa universitas yang buka intake bulan Februari, dan kebanyakan memang di Australia. RMIT sendiri adalah universitas pertama yang gue daftar dan alhamdulillah diterima. Jadi, lagi-lagi gue akui, keputusan untuk pergi ke Australia termasuk  yang “tidak direncanakan”.
  2. Kenapa RMIT? Kembali ke pertanyaan pertama, keputusan memilih RMIT bukan sesuatu yang gue pikirkan lama-lama. Tapi kalau ditanya pertimbangannya ya nggak jauh-jauh dari reputasi dan ketersediaan jurusan. Dari awal memutuskan berangkat S2 dengan beasiswa LPDP gue memang tidak pernah menargetkan untuk masuk universitas yang “wow”, karena buat gue kecocokan universitas dan kemampuan gue jauh lebih penting dari sekedar prestige. RMIT sendiri rankingnya termasuk “biasa aja”, tapi reputasinya di Australia cukup bagus sebagai universitas yang punya banyak International students dan hubungan yang  baik dengan industri.
  3. Apa sih enaknya kuliah di Australia? Pertama, hubungan dosen dan mahasiswa. Di sini dosen dipanggil dengan first name tanpa embel-embel professor atau panggilan lainnya. Kalau ada pertanyaan seputar perkuliahan, dosen sangat reachable walaupun kadang hanya bisa lewat e-mail karena ybs sibuk. Di kelas pun diskusi sangat terbuka, bahkan kadang dosen terkesan “gabut” karna mereka hanya menjelaskan sebentar sebelum mahasiswa dilepas untuk diskusi. Gue pernah membahas ini dengan teman yang asli Australia, dan ternyata mereka memang dibiasakan untuk “nggak gampang percaya” dengan omongan guru sejak SD. Sangat berbeda, kan, dengan kita yang terbiasa mendengarkan penjelasan guru di kelas.
  4. Bagaimana kehidupan muslim di Australia? Alhamdulillah gue tinggal di kota Melbourne yang sangat multicultural. Kerudung yang gue pakai sehari-hari tidak membuat gue merasa “aneh” karena banyak juga perempuan lain yang berhijab. Makanan halal? Jangan ditanya. Selain kebab dan masakan Indonesia, gue paling suka makan di restoran Uyghur alias Muslim Chinese. Bumbu-bumbu masakan Indonesia ada di berbagai toko Asia, halal butcher pun ada di mana-mana. *tuh kan, seru sendiri kalau bahas makanan* Puasa dan Lebaran kemarin pun gue nggak pulang ke Indonesia dan alhamdulillah suasana buka puasa, tarawih, dan solat ied cukup ramai karena di sini ada beberapa masjid dengan komunitas yang besar dan akrab.
  5.  Katanya living cost di sana mahal, ya? Kalau ini nggak bisa dipungkiri, sih. Tapi tenang, selalu ada cara menyiasatinya. Gue sendiri memilih untuk tinggal di city alias Melbourne CBD yang lokasinya dekat dengan kampus, jadi nggak berat di ongkos (walaupun harga sewanya sedikit lebih mahal). Fyi, naik tram di CBD gratis sepuasnya, lho. Terus untuk makan, belanja bahan mentah di sini cukup jauh bedanya dibanding makan di luar. Jadi selagi ada waktu untuk masak, gue lebih memilih masak sendiri.
  6. Dari tadi bahas yang enak-enak terus. Yang nggak enak apa? Gue orangnya memang jarang mengeluh *eaaaak* tapi kalau harus jawab… Gue akan jawab ini: internet di sini lola alias lemot alias lamaaaa.! Apalagi kalau malam. Agak bikin sedih sih bagi yang suka nontonin Oppa kayak gue hehehe.

Sementara itu dulu kali, ya? Jangan malu-malu untuk bertanya kalau ada yang masih ingin ditanyakan. Inshaa Allah akan gue jawab di kesempatan berikutnya.

Back to school: A mid-semester reflection

Processed with VSCO with c1 preset
Loh Ard Gorge, Victoria, Australia (taken March 2017)

H e l l o !

I know I’ve said this repeatedly on my previous posts but hey, I’m back again!

Some of you might have known that I, alhamdulillah, was chosen as an awardee for LPDP Scholarship from the Ministry of Finance. I initially planned to go to Germany, but things didn’t work out and long story short, here I am in Melbourne, Australia, pursuing my master’s degree on International Development.

People don’t lie when they say time flies. I am now already halfway through my first semester here. Most of my classes are held as intensives, meaning that I only need to go to school four times per class in a semester (each of the classes are as long as 6 to 7 hours). I will talk more on this system later on, insha Allah.

As for the classes, I am super grateful to be able to meet awesome lecturers and facilitators who’ve got interesting experiences from the development field, having worked either for NGOs or for Australian government before coming back to university to teach. I enjoy the classes mostly because I am given a lot of chance to share my personal experience growing up in a so-called “developing country” as well as listen to my classmates’ experiences (most of them are Australians or Australian permanent residents, making me one of a few students that are new to Australia).

Speaking  of experience, I think I’m starting to experience quarter life crisis. Only having classes once in a while gives me a lot of time to think about myself, so I’ve been thinking a lot about what to do in the future recently. Well, if you know me you’ll know that daydreaming has been my hobby since I was fifteen; but now that I’m 24, I feel like the daydreams are accompanied by more insecurities than ever. Sometimes I see myself as too childish (and selfish) because I haven’t really thought of having a steady job or buying a house or *cough* finding someone to marry.

Oh, and I still don’t know when my next update will take place (mostly due to my “busy” schedule of binge-watching youtube videos LOL) but I’d be happy to share this exciting journey towards obtaining master’s degree through my blog. If you have any questions on this please feel free to ask me!

Let’s Fly

This picture was taken in Kesennuma city, which was hit by the 2011 tsunami.
This picture was taken in Kesennuma city, which was hit by the 2011 tsunami.

To be honest, this post was written just because I realized I haven’t written anything this month.

Well, it’s not like I have nothing to share, but for the sake of making this blog a source of positive vibe, I decided not to talk about worries, confusions, and all those stuff here. 😀

Anyway, wherever you are and whatever you’re doing right now, I hope you all can keep flying beautifully like those seagulls I met in Tohoku area a few months ago.

Up, up, here we go, go! – Rocketeer by Far East Movement

Kuliah di Negeri Orang: Full Time vs Exchange

Ritsumeikan Asia Pacific University, Februari 2014
Ritsumeikan Asia Pacific University, Februari 2014

Alhamdulillah selama masa kuliah s1, saya berkesempatan untuk merasakan kuliah di dua tempat yang berbeda dengan status yang juga berbeda. Post ini sekedar sharing pengalaman yang saya alami selama kuliah di negeri orang baik sebagai full time student ataupun exchange student. Semoga bermanfaat!

1. Pendaftaran

Untuk proses pendaftaran, tentunya masing-masing universitas dan negara punya sistem yang berbeda-beda. Kadang ada orang yang bertanya ke saya, “gimana sih cara kuliah di luar negeri?”. Hm. Itu pertanyaan yang jawabannya bisa lebih panjang dari tugas kuliah. Pesan saya sih, rajin-rajin lah mencari informasi dari internet atau sumber lain seperti kedutaan. Bertanya ke teman yang berpengalaman tentu boleh-boleh saja, tapi usahakan saat bertanya sudah ada gambaran mau belajar apa di negara mana.

Saya sendiri mendaftar ke Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) lewat kantor perwakilan yang ada di Indonesia. Persyaratannya waktu itu (tahun 2011) adalah nilai TOEFL, rapor dan ijazah SMA, dan essai. Setelah mengumpulkan berkas ada proses wawancara via telepon dengan admissions office APU. Untuk lebih lengkapnya lihat di sini.

Sedangkan untuk pendaftaran exchange ke Korea University, saya mendaftar lewat academic office di APU. Universitas saya memang mengadakan seleksi exchange ini tiap semester. KU adalah salah satu pilihan tujuannya. Jadi bagi yang berminat mengikuti program seperti ini memang harus up to date soal program di universitas masing-masing.

2.Persiapan sebelum berangkat

Yang paling penting sebelum berangkat merantau ke suatu negara pastinya membuat visa alias izin masuk ke negara tersebut. Bagi yang dapat beasiswa untuk biaya hidup, biasanya pembuatan visa lebih mudah. Tapi bagi yang harus menanggung biaya hidup senditri (termasuk saya di bulan-bulan pertama) pembuatan visa ini bisa menghabiskan segentong air mata hahaha. Eh, tapi serius, “hanya” karena gagal menunjukkan saldo sekia di bank, keberangkatan kita bisa gagal, walaupun sudah diterima universitas. Karena itu, bagi yang ingin kuliah di luar negeri, pastikan orang tua menyanggupi untuk mengusahakan pembuatan visa ini. Banyak trik yang bisa digunakan, kok. Tapi saya nggak akan bahas di sini ya hehehe.

3. Biaya kuliah (dan beasiswa)

Seperti yang saya bilang sebelumnya, proses pendaftaran universitas di tiap negara itu berbeda-beda. Begitu juga dengan beasiswa yang ditawarkan. Beasiswa ini bisa datang dari universitas, perusahaan, foundation, ataupun pemerintah negara tersebut. Bagi yang mau ke Jepang misalnya, ada MEXT Scholarship (a.k.a. Monbusho) dan Mitsui-Bussan. Di Korea sendiri ada Korean Government Scholarship Program (KGSP). Saya ingatkan sekali lagi, rajin-rajinlah mencari informasi.

APU sebagai salah satu universitas swasta di Jepang punya program tuition reduction alias potongan harga untuk biaya kuliah, dari 0% sampai 100%. Beasiswa ini bentuknya bukan berupa uang tapi langsung berupa potongan tagihan. Pada dasarnya tidak ada syarat tambahan untuk beasiswa ini, tapi APU tidak pernah menjelaskan apa yang menjadi pertimbangannya. Jadi jangan tanya saya karena saya juga nggak tahu hehehe. Untuk biaya hidup, ada beberapa beasiswa yang bisa di-apply setelah sampai di Jepang, seperti Honors Scholarship dari JASSO atau beasiswa dari pemerintah Beppu city dan Oita prefecture. Alhamdulillah beberapa tahun terakhir Honors Scholarship sebesar 48,000 yen diberikan ke semua mahasiswa baru selama 1-2 semester.

Sementara di untuk exchange program di KU, ada dua beasiswa yang ditawarkan tahun ini yaitu Global Korea Scholarship dan Global KU Scholarship. Namanya memang sangat mirip sampai-sampai orang international office pun sering salah sebut. Yang pertama sumbernya dari pemerintah Korea dengan besar 800,000 won per bulan. Sementara yang kedua adalah beasiswa dari KU sendiri. Pendaftarannya di buka beberapa bulan sebelum program dimulai.

4. Kerja sambilan

Banyak negara, termasuk Jepang dan Korea, yang memberi izin untuk bekerja part time sambil kuliah. Nah, tapi perlu diingat, untuk bekerja diperlukan yang namanya work permit. Biasanya proses pembuatan work permit cukup makan waktu. Karena itu, untuk yang ikut program exchange, terutama yang hanya beberapa bulan, bisa jadi work permit baru keluar saat kalian hampir pulang dari negara tersebut.

Saya sendiri pernah bekerja sebagai tukang sapu kelas (walaupun gabut hahaha), penerjemah, dan guru bahasa Inggris selama di Jepang. Alhamdulillah pendapatan sekitar 650-850 yen per jam cukup untuk makan dan keperluan sehari-hari. Sedangkan karena alasan di atas, ditambah bahasa Korea yang masih sangat kurang, saya tidak membuat work permit di Korea.

5. Jalan-jalan

Nah, kalau buat saya, ini yang paling penting dalam kehidupan sebagai mahasiswa. Selama tinggal di Jepang, saya biasanya membatasi jajan dan tidak belanja pakaian (karena memang nggak suka juga sih) selama 4 bulan kuliah. Nah, saat libur kuliah sekitar 2 bulan itu lah saya “ngehedon” dengan jalan-jalan ke kota-kota lain. Hal ini didukung juga oleh tempat tinggal saya yang jauh dari pusat-pusat keramaian. Tapi selama di Korea, rasanya sangat susah untuk menahan diri nggak ke mana-mana karena saya tinggal di ibukota Seoul. Jadi deh hampir setiap weekend saya pergi ke luar Seoul. Tapi tentunya saya tetap ingat prinsip hidup sederhana dan hemat, dong. Kartu pelajar dan paspor adalah dua senjata yang ampuh untuk menghemat biaya perjalanan, karena beberapa tempat atau alat transportasi punya diskon khusus untuk pelajar dan/atau orang asing.

“Jadi intinya, enak nggak kuliah di luar negeri?”

Waduh, ini sih lebih susah dijawab dari pertanyaan pertama tadi. Yang pasti, dengan tinggal jauuuuh dari orang tua saya benar-benar bisa belajar mandiri. Kadang saya ingin skype ke rumah, tapi keluarga sedang tidak online. Kadang saya dalam keadaan darurat dan butuh sesuatu, tapi chat whatsapp saya baru dibaca beberapa jam setelah dikirim. Selain itu saya jadi lebih tahu kebiasaan orang-orang dari negara-negara lain, dari yang baik sampai yang buruk. Mengenal suatu budaya dari orangnya langsung pastinya jauh lebih seru daripada melihat di TV.

Tapi yang namanya kesulitan itu pasti juga ada, apalagi di awal. Saya sempat frustasi karena sering “salah makan”, alias salah beli makanan yang ternyata tidak halal. Siapa juga yang nyangka snack cokelat bisa mengandung babi? Tapi sekarang saya senang-senang aja, tuh. Bukan senang makan babi ya, naudzubillah, hahaha. Senang karena jadi ada bahan obrolan kalau ada orang yang tanya kenapa saya nggak makan daging non-halal, kenapa saya nggak minum, kenapa saya tidak boleh pamer rambut dan kulit, dsb. Komentar dai para penanya itu justru sering membuat saya makin bersyukur jadi orang beriman.

Oh, kembali ke soal full time versus exchange, masing-masing pastinya ada plus dan minusnya. Bagi yang kuliah 4 tahun di luar negeri, kesempatan untuk pulang ke Indonesia dan bertemu keluarga pastinya tidak banyak. Kadang jadi sedikit ketinggalan berita-berita dan kejadian penting di Indonesia. Tapi enaknya kita bisa benar-benar belajar kebudayaan dan bahasa setempat. Sedangkan pergi exchange 1 atau 2 semester memang menambah pengalaman juga, tapi mungkin tidak sebanyak yang full time. Enaknya, kita bisa membandingkan sistem pendidikan dan lingkungan di Indonesia dan negara tujuan.

Mau kuliah di Indonesia atau di luar negeri, full time atau exchange, semua bisa jadi baik atau buruk. Yang lebih penting itu niatnya, kan? Ok deh selamat mencoba! Keep dreaming and praying!

Life in Seoul #1: How I Could Appear on Arirang TV

image

First of all, let me thank my forever-partner-in-crime, Isna, for letting me know that Arirang TV needed some foreigners to appear on their show.

It was a usual afternoon after class when Isna sent me a Line message about the recruitment. Being hyper-excited, I emailed the After School Club team saying that I wanted to join their Chuseok Special pre-recording. The team replied my email right away, asking me about my personal data and stuff, but then I didn’t get any further notification whether I was accepted.

Up until two days later, which was the day before the show, I still wasn’t sure if I was in. So I told Isna not to be upset. Maybe I could join some other events later. But wow, at around 10 pm, they sent me a reminder mail! Being  crazy fan girl that I am, I started writing letters and preparing gifts for the MCs (Eric Nam, Kevin from UKISS, Park Jimin from 15&) and of course the guest stars, the 3 members of Royal Pirates!

The next day, I found myself wandering around Nambu Bus Terminal. The ASC team was kind enough to tell us where to go and what to ride, so after finding the right bus terminal, I just took it and went straight to the Arirang building. I even arrived here at 1 pm even though we were asked to come at 2 pm.

At 2 pm, a girl form the ASC team came out to check us, followed by another girl. They weren’t only fluent in English, they were also very kind!

The shooting itself started from around 3:30. I couldn’t stop myself from being starstruck. Thank God I could make it until the end of the show, and even made a request for Jimin.

Even though the Royal Pirates had to leave right away, I could take some selfies with Eric, Kevin, and Jimin. They were super nice! Kevin even waved his hands to us from his car when we were outside the building getting ready to go home.

Last but not least, here’s where you can watch (me on) the show!