Japanese Stuff I’m Surely Gonna Miss: 100-yen Shops

Since I decided to leave Japan, I’ve been listing the items and happenings that are so Japanese that I saw during my 4 years here; the ones that will always remind me of this country. And the first thing on the list is… Daiso! (and other similar 100-yen shops).

Daiso at Mochigahama, Beppu

They do have Daiso in other countries including Indonesia and Korea, but still, they’re not as comprehensive (can I use this adjective to describe a shop??) as the ones in Japan. Plus, the price of stuff in Daiso overseas, especially in Indonesia and Korea, are not as cheap as the original ones. I believe most of the items at Daiso Korea cost 2000 won, which is around 200 yen. I’m not sure about Daiso Indonesia but it should have similar case. Plus, you can actually find similar products with lower price in Indonesia and Korea, while you can’t really do so in Japan. As the result, Daiso in those two countries are more of “all-you-can-buy stores” rather than “the only places you can get a lot of products without hurting your wallet”.

Speaking of all-you-can-buy, Daiso and its fellow 100-yen shops literally sell anything you need to survive. Just imagine buying a new house and having nothing inside, then you go to a 100-yen shop and life suddenly feels complete.

Life essentials

What makes 100-yen shops even more interesting is that they sell some stuff that you wouldn’t think you need at first, but then you decide to buy them just because you realize you might need them at some point in your life.

This is what you need when that time of the month comes
This brush can be used to spread detergent at the same time

Most of them also have cosmetic rows. I never had guts to try the cosmetics but then a lot of Japanese beauty vloggers, like Choicerish and Sasaki Asahi have used them in their videos, so…

Oh, I’ve been mentioning “other 100-yen shops” for a few times, but what are they actually? As far as I know, the biggest rival of Daiso in terms of the number of branches is Seria. I personally feel that the items at Seria are more pretty and artistic, though. There are also shops called Can Do, which I can’t really differentiate from Daiso. I also know a shops that sells their products 5 yen cheaper the three that I mentioned named Life Plus. (And yes, 5 yen DOES matter okay).

After all, Daiso may not be the cheapest place to buy essentials in Indonesia, but I would definitely go there if I ever need to get some random Japanese stuff that can’t be found anywhere else.

Advertisements

Let’s Fly

This picture was taken in Kesennuma city, which was hit by the 2011 tsunami.
This picture was taken in Kesennuma city, which was hit by the 2011 tsunami.

To be honest, this post was written just because I realized I haven’t written anything this month.

Well, it’s not like I have nothing to share, but for the sake of making this blog a source of positive vibe, I decided not to talk about worries, confusions, and all those stuff here. 😀

Anyway, wherever you are and whatever you’re doing right now, I hope you all can keep flying beautifully like those seagulls I met in Tohoku area a few months ago.

Up, up, here we go, go! – Rocketeer by Far East Movement

Hanami 2015

Hanami, which literally means “seeing flowers”, is one of the ways Japanese people appreciate nature. In Japan, hanami refers to seeing cherry blossoms (sakura) in full bloom. Many of Japanese families or couples go to parks with their lunch boxes, doing picnic under the sakura trees.

In the past three years, I only had chances to do hanami in Beppu. This year, though, I went to Oita city to capture the beauty of Sakura with my high school juniors (who are now my university juniors as well).

Our first destination was Oita Ruins Castle. This, I must say, is one of the most under-rated sites in Oita, at least for APU students (not only me, right?). Located within walking distance from Oita station, I realized I should have been there for previous hanamis.

We also saw some group of Japanese people having BBQ under the sakura trees.

Next, we headed to Oita River. I had been there before, but never by walking. So that was the first time I felt the fresh air around the river bank. Again, I wondered why I had never been there before.

Well, apart from the fact that I, Insha Allah, will leave Oita soon (which of course makes me sad), I’m so grateful for yet another chance to capture this natural beauty called sakura!

Bonus: some sakura trees I saw earlier at Beppu park

Festival Lampion Suzhou, BSD City

Even the gate looks pretty!

Festival Lampion Suzhou diadakan dalam rangka memperingati tahun baru imlek tahun ini. Sebenarnya saya sudah beberapa kali melewati lokasi festival di samping Giant BSD City, tapi baru sempat ke sana beberapa hari yang lalu.

Berhubung festival seperti ini jarang diadakan di BSD (yang lokasinya sangat dekat dengan rumah saya), saya sangat penasaran untuk mampir. Dan ternyata, walaupun harus membayar tiket masuk 25 ribu rupiah (plus parkir mobil 10 ribu rupiah), saya nggak menyesal datang ke sana. Selain dapat berbagai kupon diskon untuk makan dan belanja di stand peserta festival, saya dapat minyak angin gratis juga dari sponsor! Lumayan, modal balik ke negara 4 musim yang sering bikin masuk angin hahaha.

Kayak ada yang kurang…?

Makan dan belanja? Yap, selain lampion berbentuk berbagai hewan (seusai shio dalam kepercayaan Tionghoa) dan bangunan yang enak dilihat (dan difoto), ada juga stand-stand penjual berbagai jenis makanan dan pakaian. Setelah berkeliling mencari makanan yang menarik, saya akhirnya memilih makan lontong medan. Hmm… Sedap…

Salah satu stand makanan: lontong medan

Fyi, festival ini masih berlangsung sampai 15 Maret, lho! Jadi, bagi yang berdomisili di BSD dan sekitarnya, jangan ragu untuk mampir!

Lampion unyu (1)
Lampion unyu (2)
Lampion unyu (3)
Lampion unyu (4)

The 90s Festival, Bandung

Sebagai young adult (iye, bukan remaja lagi kan) yang lahir di awal tahun 90an, saya sangat bersyukur bisa menikmati musik yang bermutu dari band-band Indonesia non-alay (hahaha). Dan alhamdulillah, bertepatan dengan kepulangan saya ke Indonesia kali ini, diadakan event besar yang mengundang band-band akhir 90an ini: The 90s Festival.

Gelang tanda masuk

Berhubung acara ini diadakan di Setiabudi, Bandung, saya butuh effort lebih untuk melewati 100an km tol Cipularang. Tapi berhubung ke Bandung bisa sekalian ngeceng (atau cari jodoh? oops), yaudah lah ya. Lagian jarang juga bisa lihat Base Jam, Fatur-Nadila, ME, dan Sheila on 7 ngumpul di satu acara.

Menurut rundown yang dikirim melalui e-mail beberapa hari sebelumnya, acara yang dibagi ke indoor stage dan outdoor stage ini akan dimulai di outdoor stage jam 15:10. Dilanjutkan dengan indoor stage jam 15:40. Sayangnya, saat kami datang sekitar jam 16:00, tak terlihat apa-apa di area indoor stage. Wah, padahal sudah khawatir terlambat dan kelewatan nonton Fatur-Nadila.

Fatur-Nadila, diiringi band klasik dari SMAN 3 Bandung

Akhirnya setelah ngaret setengah jam lebih, indoor stage pun dibuka. Senang banget bisa sing along lagu Kulakukan Semua Untukmu yang sempat di-remake sama RAN itu. Penampilan ME juga nggak kalah asik, meskipun usia memang tidak bisa ditutupi hehehe.

Selama acara, penonton nggak cuma bisa nonton, tapi juga nyobain berbagai jajanan yang kebanyakan bertema 90an. Ada kue cubit aneka rasa juga, lho! Ada juga booth game arcade, sebenernya pengen nyoba main tapi karena antrian yang cukup panjang niat pun diurungkan. Akhirnya saya dan teman-teman mampir ke booth NET TV untuk foto gratis lengkap dengan hasil cetakanya.

Tak terasa waktu sudah semakin malam. Suasana pun semakin panas dengan performers yang makin kece. Oh iya, selain band-band kece, Kak Ria dan boneka Susannya juga naik panggung, lho. Saya jadi ingat waktu kecil sering diputarkan kaset Susan sampai hapal dialog-dialognya. Bisa jadi kejayusan saya sekarang akibat keseringan dengerin Susan. (Alasan aja, sih.)

My old friend: Susan!

Setelah puas teriak-teriak bersama Adon, Sigit, dan Alvin (vokalis baru) dari Base Jam, saatnya jadi fan girl Sheila on 7. Soal band yang satu ini, ah, sudahlah. Tak ada kata yang sanggup mendeskripsikannya (ok lebay). Sayang seribu sayang, penampilan mereka harus dihentikan oleh Polisi setempat karena durasinya melebihi perjanjian. Yang bikin kecewa berat, panitia yang sebenarnya bertanngung jawab atas keterlambatan ini malah diam saja. Nggak ada satu perwakilan pun yang naik panggung untuk minta maaf atau menjelaskan keadaannya.

Biarpun kecewa, saya bersyukur aja sih, masih bisa bernostalgia seharian itu. Semoga ke depannya acara-acara musik bisa lebih dispilin waktu sehingga performers maupun penonton nggak jadi kecewa, deh.

Sindrom Butiran Debu

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Saya pertama kali mendengar istilah “butiran debu” dari sebuah lagu yang berjudul sama. Belakangan, saya makin sering mendengarnya dari obrolan-obrolan tentang masa depan dengan teman-teman SMA. Biasanya, saat membicarakan teman yang baru saja mencetak sebuah prestasi atau mendapatkan (ehem) jodoh, salah satu dari mereka akan bilang, “yah, dia sih kece, kalo gue mah apa atuh, cuma butiran debu” atau semacamnya. Lama-lama saya jadi ikut-ikutan menggunakan istilah ini. Sampai suatu hari keluarlah ide di kepala untuk menyebut rasa minder dan kurang percaya diri untuk mewujudkan cita-cita sebagai “sindrom butiran debu”.

Sindrom butiran debu ini nampaknya cukup berbahaya. Buktinya, teman-teman SMA saya yang jelas-jelas kece, pintar, dan insya Allah soleh-solehah *heh, jangan gr ya lo pada* mendadak jadi galau dan resah memikirkan nasib mereka di masa depan. Ada yang mau apply S2 tapi merasa IP atau kemampuan Bahasa Inggrisnya kurang, ada yang ingin lulus cepat tapi belum pd mencari pekerjaan di jaman yang (katanya) serba sulit ini, ada juga yang naksir orang tapi merasa orang yang ditaksir bakal segera melamar orang lain (#eh).

Kemarin, saat mendengarkan presentasi oleh Bapak Abdul Kahar (Direktur Dana Kegiatan Pendidikan LPDP) dalam LPDP Edu Fair (yang mau tau LPDP itu apa, ke sini ya), saya kembali teringat akan sindrom yang juga saya alami ini. Beliau kira-kira ngomong begini, “anak-anak mahasiswa jaman sekarang, semester-semester akhir menjelang wisuda bukannya bersuka cita malah jadi galau”. Waduh, si Bapak kok bisa menebak isi hati saya, ya? Tapi berhubung acara kemarin dihadiri ribuan orang, yang hampir semuanya manggut-manggut mendengar ucapan si Bapak, berati sindrom butiran debu ini sebenarnya memang lagi mewabah, dong?

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya mengalami sindrom ini. Bedanya, waktu SMA, saat sindrom semacam ini menyerang, saya tinggal masuk ke kamar teman, curhat colongan, lalu balas mendengarkan kegalauan teman saya dan saling memberi masukan dan suntikan semangat. Cara lainnya, tinggal ke ruang BK lalu minta bantuan Bu Rini, guru BK paling kece se-dunia, untuk mencarikan solusi yang tepat untuk masalah saya. Bisa jadi sindrom yang menyerang saat ini makin parah karena saya kehilangan sosok teman-teman se-asrama dan sosok Bu Rini. Bisa juga karena sekarang pilihan yang ada semakin banyak, sementara di sisi lain saya juga makin menyadari batasan-batasan yang ada pada diri saya.

Jujur, saya sendiri masih belum tahu apa obat yang bisa menyembuhkan sindrom ini. Tapi sepertinya sindrom ini memang tidak baik untuk dipelihara. Untuk sementara, saya akan mencoba nekat untuk mencoba berbagai pilihan, tentunya setelah meminta petunjuk kepada Allah swt. Kewajiban manusia “cuma” berusaha dan berdoa, kan? Mangat yuk, Cyiin!

Life in Seoul #13: SM Town at COEX Artium

Welcome to the last post of “Life in Seoul” series!

A yo GG!

This post is about SM Town at COEX Artium, a newly built “heaven” for KPOP fans, especially the fans of SM Entertainment’s artists. The 5-floor building is located right across Exit 5 of Samseong Station.

EXO’s MV played on the first floor

On the second floor, there is a shop selling merchandise from SM’s well-known artists such as TVXQ, Super Junior, Girls’ Generation, SHINee, f(x), and of course EXO. The price ranges from 2000 won for small stuff like pins to 70,000 won for t-shirts and bags. Since I came only one day after the soft opening, the shop was still crowded by dedicated SM fans. I was luck to be able to get in directly because when I left the shop, I saw staffs giving out queue number for new visitors.

SM fans, ready to shop
one of the products

The 3rd floor is for a saloon and a studio, but it is not yet completed. I can imagine how crowded it will be after the launching in January.

under construction

On the 4th floor, there is a pop-up cafe selling desserts and drinks which are inspired by the artists. The one I tried was Red Velvet Cupcake, which is obviously aimed for the Red Velvet fans (even though I’m not). What makes this cafe special is, while reading, visitors can enjoy books and magazines about Super Junior, EXO, and some other artists. Same tables are also occupied with music player that can play SM-produced songs.

the cupcakes! hmm
music player on the tables

As I said before, this place is still very new, so I can’t really judge if it’s really worth a visit. However, for someone who has been a fan of SM Entertainment for over 5 years, I would definitely go to this place again if I ever have a chance to go back to Seoul.