First Time in Kansai, Day 1: Osaka

Oh noooo! The 2-month holiday has finally come to and end. Well, school started last Thursday, actually. kinda love the classes of this semester. Hope everything goes well even though AP House World Festival and Indonesian Week 2013 are approaching. Aamiin.

This time I’ll write some good memories of the first days of my Spring Holiday (it was still Winter, though). Before going back to Indonesia through Kansai Airport, my brother and I spent two days in Kansai Region. This region is located in southwest Japan and is famous for its beautiful cities as well as unique dialect. The region consists of Osaka, Kobe, Kyoto, Nara, etc.

We took the night ferry from Beppu to Osaka, which takes around twelve hours. The ferry is equipped by bedrooms, toilets, a restaurant, and a convenience store. The bedrooms have different classes. We choose the tourist class which means sleeping with 20 other people in one room with futons. I chose a girl-only room so it was quite convenient.

Ferry bedroom
Ferry bedroom

We arrived at the ferry terminal at six in the morning, then took the train to Raizan Hostel. Since we came too early and couldn’t check-in yet, we decided to put our luggage in the hostel and strolled around Osaka. Our first destination was Osaka Castle. We met another Indonesian which was apparently traveling alone. After taking some photos for him, we asked him to take a photo of me and my brother in front of the castle.

Osaka Castle
Osaka Castle

The cold, rainy weather made us so hungry, so we left the castle to find a halal curry restaurant I found from the internet. It was so hard to find even though we were sure we were on the right way. Finally we decided to enter an udon restaurant and eat there.

Udon, omnomnom
Udon, omnomnom

Time passed quite fast and so it was already 1 when we finished eating. We went back to the hotel, checked in, and took a nap until around 4.

Our next destinations was Namba. This area is famous as a shopping district. Even though none of us like shopping, it was just fun awalking around the area. We also went to Shinsaibashi, ate takoyaki (octopus balls, Osaka is famous for this food), and of course took some photos in front of the Glico Man. Before going back to the hotel, we went to a souvenir shop to buy some green tea kitkat. We were surprised by the shop-lady who could speak a few Indonesian phrases.

Takoyaki
Takoyaki
Glico Man
Glico Man

Back at the hotel, we ate onigiri from Lawson and discussing about where to go the next day. After several browsing, we decided to go to Kobe. I’ll talk more about Kobe on my next post.

Advertisements

Resident Assistant

Image

Di postingan kali ini gue mau cerita soal kegiatan yang gue jalanin satu semester belakangan. Jadi ceritanya, mulai September 2012 lalu gue punya kerjaan baru, yaitu Resident Assistant. Gue bertugas men-support penghuni asrama, terutama di lantai tempat gue ditgaskan, sekaligus piket dapur setiap malam. Nggak cuma itu, gue dan 63 Resident Assistants (RA) lain juga bertanggung jawab mengadakan acara-acara yang bikin penghuni asrama, alias residents, makin betah di AP House, asrama kampus gue.

Kata orang sih, RA itu organisasi terbesar sekaligus paling bergengsi di kampus gue. Tapi jujur aja bukan itu alasan gue bergabung di sini. RA lantai gue lah yang bikin gue jatuh hati pertama kalinya. Bukan, bukan karena dia ganteng, Dia cewek kok. Yang bikin gue jatuh hati, walaupun waktu itu jelas banget mukanya capek dan kurang tidur, dengan senyum lebar dia menyambut gue dan residents lain yang baru datang. Sejak saat itu gue bertekad, suatu saat gue juga bakal pakai polo shirt orange alias seragam RA, dan membantu residents gue nanti seperti RA gue banyak membantu gue.

Enaknya jadi RA, apalagi sebagai orang yang cerewet kayak gue, kita bisa ngobrol dan dapat banyak cerita dari residents. Walaupun gue suka mager di kamar, begitu ke dapur gue bisa ketemu banyak orang dan ngobrol-ngobrol sama mereka. Lebih dari itu, dengan jadi RA gue semakin mengerti rasanya bahagia dengan membahagiakan orang lain. Setelah berkali-kali meeting untuk persiapan suatu acara, begitu residents datang dan senyum sumringah, rasanya kecapekan itu hilang begitu aja.

RA juga yang membuat gue belajar bekerja dengan orang asing, terutama orang Jepang. Walaupun gw sempat ikut beberapa organisasi lain sebelum RA, di sini gue dituntut untuk lebih disiplin dan menghargai pendapat orang lain. Bekerja dengan 63 orang dari berbagai negara itu sama sekali nggak mudah, lho. Tapi, setelah kenal mereka lebih dari satu semester, kami semua jadi berteman baik.

Ngomong-ngomong soal kerja dengan orang Jepang, seperti yang sudah jadi rahasia umum, mereka sangat menghargai waktu. Misalnya acara dimulai jam 7, kita semua harus sudah berkumpul paling lambat jam 7 kurang 5. Selain itu, orang Jepang juga sangat mematuhi peraturan. Sayangnya, kepatuhan ini kadang membuat mereka jadi terlalu kaku dan kurang kreatif. RA internasional (ehem, termasuk gw) lah yang biasanya ngasih ide-ide segar. Satu hal yang sebenarnya paling bikin bete adalah, orang Jepang sukaaaaaa banget mengadakan rapat. Satu acara kecil aja meeting-nya bisa lebih dari tiga kali dan tiga-tiganya super lama. Awalnya gue selalu malas ikut rapat, lama-lama sih jadi kebiasaan juga.

Bisa dibilang, kerja RA itu 24 jam sehari. Kadang ada yang ngetok pintu kamar karena lampu di kamarnya mendadak mati, padahal udah jam 11 malam. Bahkan saat ada resident yang sakit di tengah malam RA juga harus siap nganter ke rumah sakit.

Itu dia cerita singkat (eh panjang ya?) tentang RA. Kalo dihitung-hitung, gaji 20 ribu yen yang kami dapat sangat nggak sebanding dengan 24 jam kerja tadi (standar gaji part-time minimal 650 ribu). Tapi pelajaran dan pengalaman yang kami dapat selama jadi RA kayaknya juga nggak pantas juga dinilai dengan uang. Eciee. 

Pulang :)

Alhamdulillah, bulan Februari lalu gue berkesempatan pulang ke Indonesia untuk pertama kalinya setelah 3 semester. Serunya, kali ini gue nggak cuma bawa diri sendiri (dan adik pertama gue yang sekarang jadi teman kuliah), tapi juga 2 mantan roommate Jepang gue.

Setelah ditinggal hampir 2 tahun, tentunya banyak hal yang berubah dong di Indonesia. Perubahan yang paling mencolok buat gue:

1. Mal di Jakarta makin banyak! Namanya pun makin aneh-aneh, Salah satu yang sempat gue kunjungi namanya Kota Kasablanka.

2. Di Pamulang (my hometown yeay!) makin banyak rumah sakit. Semoga bukan hanya kuantitasnya yang meningkat, kualitasnya juga.

3. Adik kedua gue makin tinggi! Sebelum gue merantau ke Jepang tingginya 160 cm-an, sekarang lebih dari 170 cm. Jadilah gue anak tertua sekaligus terpendek. Hiks, resiko punya 2 adik laki-laki.

4. Mas-mas dan mbak-mbak penjaga gerbang tol makin berkurang. Pengguna e-toll card makin banyak.

5. Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta sudah jadi! Sebagai pengguna setia AirAsia (oops, sebut merek) gue beberapa kali ke sana dan sejauh ini tingkat  kenyamanannya cukup tinggi.

6. Kamar gue sudah disulap jadi ruang komputer. Lokasi barang-barang di rumah pun berubah total.

Ada juga beberapa hal yang nggak berubah sama sekali:

1. Zebra cross tetap jadi penghias jalan. Setelah 1,5 tahun “terpaksa” nyebrang di zebra cross, rasanya sedih dan khawatir melihat orang-orang masih nekat nyebrang sembarangan. Tapi seru juga sih melihat Kuriko dan Aoi, dua teman Jepang gue, “belajar” nyebrang sembarangan. Those creepy faces are just priceless haha.

2. Teman-teman SMA gue masih segila dulu! Yup, sebagai alumni SMA (okay, Madrasah Aliyah) berasrama, gue sangat akrab dengan mereka. Mereka juga salah satu alasan gue menyerah dengan prinsip “4 tahun nggak usah pulang” hehehe. Selama di Indonesia, selain jalan-jalan bersama 2 teman Jepang, gue menyempatkan diri untuk main ke kosan dan kontrakan mereka. Penampilan boleh berubah, tapi sifat dan kebiasaan kita ternyata masih sama tuh.

One Day in Fukuoka

Last Friday I went to Fukuoka with some friends. We were in the middle of our quarter break, and we didn’t know that apparently it was also a national holiday. No wonder the bus was almost fully booked when did the reservation.

The journey started at around 8. Well actually we promised to take the 7-ish bus, but I overslept (LOL) so I took the next bus with another friend.

It took 2 hours and 2000 yen to reach Fukuoka from Beppu. After arriving at Tenjin, Fukuoka’s well-known shopping district, we met some other friends at H&M. The girls were shopping crazily as there was a huge discount, while I decided to grab some onigiri in Seven Eleven across the shop. Yup, shopping is just not my stuff.

intersection
one intersection in Tenjin area

We had udon for lunch and continued the journey to IKEA, which was sooooo far away from Tenjin. We used a 700 yen round-trip ticket to get there.

ticket
Tenjin Bus Center-IKEA round trip ticket

ikea
the building, with mysterious bread-like smell came out of it

It was already dark when we were back in Tenjin. Since we only had a few hours left, we directly moved to Canal City for dinner. We took the city bus which costs only 100 hundred yen wherever you get off.

canal city
watching fountain show after dinner

We walked to our last stop, Hakata Station. It was really good to feel warm weather and to see many people walking around the street. The things we couldn’t find in Beppu at the moment. :p

Hakata Station looked amazing with lights and Christmas decoration. We took some photos before heading to the bus center.

hakata station
the entrance

lights
time to say goodbye 😦

So that was how we spent one fine autumn day in Fukuoka. Now we’re refreshed and ready to face the new quarter! Yosh!

Manfaat Kepo

Kepo, alias kepengen tahu, konon adalah penyakit berbahaya. Iya sih, kalo terlalu terang-terangan sampai bikin orang geregetan Sebaliknya, kalo dilakukan secara diam-diam, kepo malah bisa bernilai positif lho.

Buat gue, kepo adalah sarana mecari inspirasi. Kok bisa? Iya dong, kan yang di-kepo-in orang-orang hebat. Teman lama yang sekarang sukses, misalnya. Apa yang di-kepo-in? Macam-macam, bisa notes di facebook, foto-foto di instagram, atau kicauan di twitter. Lebih asik lagi tulisan-tulisan di blog. Lewat kepo, kita bisa belajar dari pengalaman orang lain sekaligus memotivasi diri untuk jadi lebih baik.

Mari budayakan kepo!

Karaoke Gratis di KaraokeParty

Hobi nyanyi? Pengen mengasah pita suara?

Daripada ngabisin waktu dan uang di karaoke, mending coba mampir ke KaraokeParty. Di website ini lo bisa pilih banyak lagu (Bahasa Inggris), dari yang jadul sampe yang lagi nge-hits.

Cara kerja website ini bisa dibilang sama dengan mesin karaoke.

1

Warna di garis itu berubah-ubah seusai ketepatan nada kita. Merah berarti super fals dan biru berarti tepat sasaran.

Setelah selesai nyanyi, bakal keluar score nya, kayak gini nih:

2

(suara gue lumayan juga ya ternyata, hihihi)

Serunya, selain nyanyi, kita bisa coba jadi produser rekaman juga. Dengan meno record, kita bisa mixing suara sendiri kayak gini:

3

Gampang kan? Selamat mencoba!
Lanjut nyanyi lagi ah…